Cerita Paku di Hati

Mei 25, 2010 § 9 Komentar

Pernahkah kau memaku sebuah kayu lalu kau cabut pakunya? bekas paku itu tidak akan pernah hilang walau pakunya sudah tidak ada lagi.

Itulah yang terjadi bila kita terluka/melukai perasaan seseorang. Mungkin maaf itu dapat dengan mudah terucap namun lukannya akan membekas di hati. Membuat luka/kesalahan itu tidak lebih dari 5 menit, namun memaafkan memerlukan waktu lebih dari 5 menit tetapi untuk melupakannya, takkan pernah diketahui berapa lama waktu yang diperlukan untuk melupakan sebuah kejadian.

Berlindung di balik khilaf dan ketidaksengajaan menjadi alasan manjur untuk membenarkan kesalahan. Seorang guru mengingatkan saya bahwa tempatnya khilaf dan ketidaksengajaan tercipta saat kita bercanda guarau, percayakah sobat? dulu saya tidak mempercayainya tapi kini saya percaya. Ketika tawa itu menggelegar dan nafas habis hanya untuk tertawa dan saling sindir sebagai bahan candaan disinilah kehilafan itu terjadi.

Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dalam suasana candaan seperti itu, mungkin beberapa tips ini bisa dilakukan :

1. Mengucapkan istiqfar selepas tertawa

2. Meminta maaf selepas bercanda

3. Bercanda dengan tidak berlebihan

4. Hindari topik bercanda yang mengarah pada hal-hal pribadi

5. Hindari candaan yang menggunakan sindiran

6. Mungkin teman-teman bisa menambahkan🙂

“Meminta maaf diawal lebih baik daripada menunggu luka”

Tagged: , , , , , , ,

§ 9 Responses to Cerita Paku di Hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cerita Paku di Hati at Kutukupret.

meta

%d blogger menyukai ini: